JAKARTA: Kementerian Perekonomian telah menyelesaikan penyusunan cetak biru penataan dan pengembangan sektor logistik Indonesia setelah mundur dari jadwal semula pada November 2008.
Cetak biru logistik tersebut kini mulai dibahas antardepartemen sebelum ditandatangani Menko Perekonomian.
Staf Ahli Menko Perekonomian Bidang Logistik sekaligus Ketua Tim Penyusun Cetak Biru Logistik Firman Malem Ukur Tamboen mengatakan cetak biru sudah selesai, tinggal pembahasan akhir antardepartemen yang terkait.
"Cetak biru akan segera diluncurkan dalam 1 hingga 2 bulan mendatang," ujarnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.
Dokumen cetak biru logistik ini sedang dibahas oleh Departemen Perhubungan, Departemen Perdagangan, dan Departemen Perindustrian sebelum ditandatangani oleh Plt Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati.
Cetak biru penataan dan pengembangan sektor logistik Indonesia yang diperoleh Bisnis kemarin terdiri dari lima bagian, yaitu pendahuluan, sektor logistik nasional, tantangan sektor logistik Indonesia saat ini dan masa depan, visi dan strategi logistik Indonesia, serta kebijakan sektor logistik Indonesia.
Pemerintah menjelaskan tujuan dari pembuatan cetak biru ini dilakukan untuk meningkatkan daya saing dunia usaha nasional di pasar global. Dokumen ini memformulasi visi dan kebijakan logistik nasional secara garis besar.
Cetak biru tersebut diharapkan bisa meningkatkan kinerja sektor logistik dalam rangka mempersiapkan ekonomi Indonesia menghadapi perdagangan dunia bebas yang secara nyata sudah diwujudkan dalam kesepakatan World Trade Organization (WTO), Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), dan Asean Free Trade Area (AFTA).
Cetak biru tersebut juga membahas peran dan ruang lingkup logistik, keunikan geografis Indonesia, perubahan logistik global, dan permasalahan logistik di Tanah Air.
Visi logistik yang tercantum dalam cetak biru adalah menjadikan sektor tersebut terintegrasi antarpulau dan secara internasional terkoneksi dengan ekonomi utama dunia secara efisien dan efektif, sehingga meningkatkan daya saing nasional dalam era persaingan rantai suplai dunia.
Peluncuran cetak biru logistik ini mundur dari jadwal semula yang direncanakan selesai pada November 2008. Hingga kini belum ada rencana pasti kapan dokumen ini diluncurkan.
Mundur dari jadwal
Pembahasan dokumen ini terus dilakukan secara intensif melibatkan banyak pihak sejak Juli 2008, dimulai dari overview kinerja dan relevansi secara umum kegiatan logistik di Indonesia mulai dari titik asal pemasok hingga titik akhir pengguna.
Pemetaan ini termasuk mengetahui kegiatan persediaan, pergudangan, pengemasan, trucking, dan komponen logistik lainnya.
Tahap berikutnya adalah mempelajari kondisi dan kinerja sisi suplai yang mencakup komponen sistem logistik, peraturan perundangan, dan institusi, serta proyek infrastruktur yang sedang berjalan.
Dalam sistem logistik nasional, peraturan dan perundangan adalah payung dari semua komponen yang ada.
Tahap kegita pada Agustus 2008 adalah pengkajian kebutuhan dan perspektif penggunaan sistem kegiatan logistik, termasuk kajian kemungkinan perbaikan atau penyempurnaan yang dapat dilakukan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar